Polsek Bokondini Gelar Pengecekan Senjata Api Inventaris Dalam Kedinasan
30 Juli 2020
Bupati Agam Indra Catri Sudah Layak Menjadi Calon Wakil Gubernur Sumbar, Kata Ketum LSM PERAK
30 Juli 2020

Di Tengah Covid-19, 8 Orang di Kota Kupang Meninggal Akibat Demam Berdarah

Reading Time: 2 minutes

KUPANG, mediaputrabhayangkara.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus terjadi di tengah pandemi COVID-19. Hingga minggu ke dua bulan Juli ini, Dinas Kesehatan Kota Kupang mencatat ada 745 kasus dan 8 di antaranya meninggal dunia.

“Ada 745 kasus DBD dengan 8 kasus meninggal dunia,” kata Kabid Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang, Sri Wahyuningsih, SKM., M. Kes saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/7/2020).

Menurutnya, “tahun ini kita waspada DBD karena lebih banyak dari Covid. DBD mengalami peningkatan.”
Adapun kasus demam berdarah yang paling tinggi yaitu wilayah Sikumana 158 kasus, Oepoi 139 kasus, Bakunase 130 kasus, Oesapa 99 kasus, Alak 65 kasus, Penfui 47 kasus, Oebufu 41 kasus, Oebobo 41 kasus Pasir panjang 26 kasus, Naioni 21 kasus, Manutapen 14 dan yang terendah ada di Kota Kupang kota yaitu 5 kasus.

“Peran semua masyarakat agar meningkatkan pola hidup bersih dan sehat, pemberantasan sarang nyamuk( PSN) dilakukan dengan baik. Tahun ini sudah kita waspada DBD,” jelas Sri.

Sri juga angkat bicara mengenai anggapan bahwa pemerintah lebih fokus menangani pandemi COVID-19 dan mengesampingkan penanganan DBD.
Ia menjelasakan, pemerintah tidak pernah mengesampingkan masalah DBD. Namun pada awal-awal masa pandemi lalu konsentrasi semua pihak fokus menangani COVID-19.

“Kemarin karena Covid-19 sehingga kita agak panik tapi mulai bulan Juli kita sudah perintahkan program-program kesehatan dimulai lagi seperti monitoring di setiap puskesmas, pemantauan angka bebas jentik, penaburan abate, pengasapan atau fogging,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi meningkatnya kasus DBD, Sri mengimbau masyarakat untuk jaga kesehatan masing-masing, menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan senantiasa memberantas sarang nyamuk dengan metode 3M yaitu menutup, menguras, dan memanfaatkan barang-barang bekas yang bisa didaur ulang sehingga bisa dimanfaatkan.
“Untuk kasus DBD kita harus turun lapangan untuk melihat perkembangan jentik, melakukan sosialisasi oleh kader posyandu serta puskesmas turun ke gereja, masjid, karena kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita semua harus bergandengan tangan bersama,” tutupnya. (fwl/fwl)