Polres Pelabuhan Belawan luncurkan Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT)
8 Oktober 2019
Polsek Beo Sosialisasi Kepada Siswa Siswi di SMU Negeri 1 Beo
9 Oktober 2019

Meja Redaksi : Menjiplak Atau Re-Write

Media Putra Bhayangkara, Rabu (09/10) -Menjiplak informasi pemberitaan milik kawan, lalu memajang di medianya sendiri, tanpa menyebutkan sumbernya. Ketika orang-orang berkomentar di sana, ia bersikap seolah-olah semua unggahan itu hasil investigasi dia sendiri. Sementara memang ternyata seorang penulis, atau minimal mengaku penulis dari Media berbadan hukum.

Dari meja redaksi, (MPB) Media Putra Bhayangkara memberi pandangan pengertian tentang Menjiplak

 

Di era digital ini, secara teknis aktivitas jiplak-menjiplak tulisan dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah dibanding dulu di era cetak. Kita cukup memencet beberapa tombol, menghapus nama penulis asli, maka bereslah sudah. Saya yakin, ada ledakan jumlah penjiplakan tulisan di zaman ini, berlipat-lipat lebih besar dibanding zaman sebelumnya. Lebih-lebih lagi di medsos.

Bisa saja kita menganggap peristiwa semacam itu sebagai angin lalu. Membiarkannya, atau memaafkannya dengan gaya filantropis: “Nggak papaaa, Toh berita itu memang kutulis untuk dibaca orang. Jadi kalau dijiplak, tentu ia semakin tersebar luas, dan pembacanya jadi jauh lebih banyak.”

Cara berpikir seperti itu sah-sah saja dan lumayan mulia. Tetapi, Kami dari Meja Redaksi Media Putra Bhayangkara, mempertimbangkan hal yang jauh lebih luas lagi, yaitu tradisi menganggap remeh menilai hasil produk-produk pikiran dan gagasan seseorang.

 

Tertindas Oleh Para Plagiator

Ketika kita cukup sensitif melihat orang memplagiat sebuah artikel di suatu sebut saja media X. Lalu media X protes dengan penjiplakan itu ditimpakan kepada sebuah Media yang mengunggah berita tapi hasil karya media lain, krisis eksistensi di sinilah titik bahayanya.

Pendek kata, dari Meja redaksi Media Putra Bhayangkara ingin mengatakan bahwa secara riil Menjiplak pemberitaan hasil karya Media Lain sama derajat dosanya dengan menjiplak sebuah artikel karya intelektual orang lain. Kira-kira begitulah biar lebih mudah membayangkannya. Walhasil, para kreator gagasan tidak punya kesempatan luas untuk semakin memperkuat gagasan-gagasan mereka, untuk membagi ketajaman sudut pandang mereka, sebab kesempatan untuk semua itu tertindas oleh para plagiator.

 

Maka dari Meja Redaksi MPB mohon maaf, dengan si penjiplak Sekilas memang tampak konyol dan berlebihan, namun langkah yang terkesan kurang berbudaya itu bisa menjadi penguatan fondasi bagi tumbuhnya rasa malu kolektif akan kebiasaan menjiplak seenaknya.

Dari situ, pelan-pelan Kami dari Media Putra Bhayangkara, membentuk diri sebagai masyarakat yang menempatkan *Derajat gagasan dan ilmu pengetahuan lebih daripada barang-barang.* (Red. MPB)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *